Displaying items by tag: Kompetensi Kesejahteraaan Guru
Kompetensi dan Kesejahteraan Guru : Kisah Perjalanan Tiga Guru Menjalani Profesinya
![]() |
Artikel ini ditulis berdasarkan tiga pengalaman guru dalam menjalankan profesinya. Pengalaman pertama adalah pengalaman Pak Rahmat seorang guru yang berjuang dari bawah. Pengalaman kedua adalah pengalaman yang langsung dialami sendiri selama menjalankan tugas sebagai guru. Pengalaman ketiga adalah saat menjadi asesor sekolah penggerak, mewawancarai Pak Guru Ronal. |
Kisah Pak Guru Rahmat
Pak Rahmat teman SMP pada kurun waktu 1982-1985. Cita-citanya masuk institut paling terkenal di Indonesia. Tetapi nasib membawanya ke institut keguruan di Kota Bandung, masuk di jurusan Kimia. Lulus tahun 1993 dan kemudian menjadi guru. Meniti sebagai guru honor, kemudian diangkat sebagai Guru PNS. Saat diangkat pertama kali pada golongan III-A mendapat gaji sekitar Rp 180.000. Sebelum diangkat menjadi Guru PNS, saat menjadi guru honor juga bekerja sampingan sebagai pengemudi ojek.
Tahun 2007 lolos mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) dan mendapatkan Tunjangan Profesi Guru (TPG). Dengan tunjangan profesi, Pak Rahmat makin fokus dalam mengajar dan berkarya membuat buku mata pelajaran sesuai yang diampunya yaitu mata pelajaran Kimia. Tetapi ada yang lebih membuatnya bahagia, anak-anaknya berhasil masuk ke institut yang paling terkenal di Indonesia. Cita-cita Pak Rahmat saat lulus SMA tahun 1988.
Pengalaman Pak Rahmat, adalah kisah yang menunjukkan kompetensi yang dimiliki Pak Rahmat telah mengantarkannya menjadi guru yang hebat. Sementara kesejahteraan yang didapatnya menjadikan Pak Rahmat lebih fokus, sehingga selain mampu mendidik orang lain, anaknya pun mampu masuk ke perguruan tinggi negeri dengan saingan yang sangat ketat. Pembiayaan kuliah bisa diatasi dari penghargaan tunjangan guru yang Pak Rahmat terima.
Kisah Diri Sendiri
Dalam sebuah tulisan artikel karya penulis di sebuah blog, tentang titik balik kehidupan, dengan judul “Kok Malah Menjadi Guru?”, meninggalkan pekerjaan di sebuah konsultan Amdal dengan penghasilan 5 sampai dengan 6 kali lipat penghasilan sebagai guru. Kisah ini dialami langsung diri sendiri. Saat berada di Kota Probolinggo dan menjadi konsultan Amdal Pembangunan PLTU Paiton, diilhami mimpi memiliki kolam ikan koi dengan warna yang beragam. Ternyata itulah mimpi yang menjadi keyakinan untuk menjadi seorang guru.
Guru di sekolah swasta lumayan besar yang berada di Kota Bogor, dengan gaji sebesar 1.4 dari guru PNS, sekitar Rp 250.000 per bulan. Cukup karena ingat saat itu ongkos bus ke Bandung lewat Puncak untuk yang ekonomi Rp 6.000 sementara bus AC Rp 11.000. Makin terbantu ketika istri pun menjadi guru di yayasan yang sama.
Untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah ini sangat ketat. Ada 170 pelamar, didahului dengan psikotes. Posisi saat lolos psikotes berada di peringkat kelima. Prestasi yang patut disyukuri dari sekian banyak pelamar.
Beberapa prestasi yang diraih sebagai guru, juara ke-2 guru berprestasi tingkat Kota Bogor, Kepala Sekolah Berprestasi tingkat Kota Bogor, Juara Menulis se-Bogor Raya yang diadakan Media Massa milik grup Jawa Pos. Tingkat Nasional terpilih sebagai 30 besar Pendidik terbaik melalui tulisan artikel, dari 300 peserta yang diadakan Kompasiana, terpilih sebagai penulis naskah esai terbaik di blog indonesiana.id milik Tempo Grup.
Pada saat masih berlaku ujian nasional, saat itu mengampu dua mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Yaitu Sosiologi pada program IPS dan Sejarah Budaya pada program bahasa. Untuk raihan nilai Sosiologi meraih ranking ke-7, sementara untuk Sejarah Budaya meraih ranking ke-2.
Alhamdulillah dengan dana tunjangan guru yang diterima dari pemerintah bisa menyelesaikan magister Sistem Informasi di STMIK LIKMI Bandung pada tahun 2012. Dua anak juga masuk PTN di Depok dan Bandung.
Kisah ini menguatkan dengan kompetensi dan melalui seleksi yang ketat mampu mengantarkan menjadi guru yang berprestasi, sementara kesejahteraan yang didapat dari TPG mampu mengantarkan meraih pendidikan magister serta mengantarkan anak-anak bisa mengikuti perkuliahan di PTN.
Kisah Pak Guru Ronal
Dengan Pak Guru Ronal bertemu melalui Google Meet saat bertugas menjadi asesor sekolah penggerak. Jadi hanya bertemu sekitar satu jam saja. Satu jam yang sangat berarti. Pak Ronal ini kepala sekolah sebuah sekolah swasta di Sumatera Utara. Banyak hal yang didapat dari Pak Ronal, dia berhasil membangun kembali kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Sekolah sudah pada titik nadir, hampir kehilangan siswanya.
Pak Ronal bekerja keras. Dia berkolaborasi dengan para alumni untuk menarik kembali minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Dahulu sekolah swasta ini sekolah favorit, tetapi perlahan ditinggalkan para orang tua. Kesalahan pertama merasa sebagai sekolah favorit yang akan terus diburu oleh masyarakat, kedua karena merasa favorit, perlahan kualitas sekolah menurun. Disiplin, prestasi semuanya mengalami penurunan.
Pak Ronal kemudian membangun kembali sekolah dengan melibatkan alumni sekolah. Hal-hal mendasar yang sebelumnya menjadi kekhasan sekolah mulai diterapkan kembali. Akhirnya sekolah swasta tersebut berhasil secara perlahan menarik minat para orang tua. Upaya nyata dari Pak Ronal adalah membangkitkan kembali tanggung jawab guru. Guru yang terdampak sertifikasinya tidak cair karena kekurangan jam mulai memahami perlunya tidak terlena dengan predikat sekolah swasta favorit. Semua kembali bergerak, tersadar tidak boleh terlena oleh kemapanan.
Pak Ronal memanggil semesta, sesuai dengan tema hardiknas tahun ini. Melibatkan pihak-pihak yang memiliki hubungan emosional dengan sekolah yang dipimpinnya.
Penutup: Upaya Pemerintah
Kisah Pak Ronal, dengan kompetensi yang pas sebagai kepala sekolah, dan menata tanggung jawab guru tentang arti kesejahteraan yang harus diperjuangkan, berhasil menaikkan kembali derajat sekolah.
Dalam catatan yang didapat, pemerintah terus membenahi upaya peningkatan kompetensi guru. Pertama, melalui beasiswa bagi guru-guru yang belum S1. Mereka diberikan kesempatan untuk meningkatkan kompetensinya melalui program rekognisi ke perguruan tinggi. Program ini dirancang agar para guru menjadi motor utama untuk mewujudkan pemerataan mutu pendidikan.
Kedua, melalui data yang ada di dapodik pemerintah berupaya meningkatkan kesejahteraan guru, yaitu melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG). Setelah lulus mendapatkan tunjangan Rp 2.000.000 per bulan.
Tentunya apresiasi bagi pemerintah karena dengan keterbatasan anggaran berupaya untuk mewujudkan hak dasar bagi para guru yaitu kesejahteraannya. Sehingga dalam melaksanakan tugas guru menjadi fokus dan merasa nyaman.
Kompetensi harus terus dilatih baik secara mandiri ataupun oleh pihak pemerintah. Sementara kesejahteraan juga harus melekat pada tugas seorang guru agar dapat memaksimalkan perannya untuk mewujudkan pemerataan mutu pendidikan.
Harapannya perbaikan-perbaikan dan peningkatan kompetensi guru disertai dengan perhatian pada kesejahteraannya dapat mewujudkan upaya pemerataan mutu pendidikan. Semoga!

